Mangga arum manis dan managli sudah jadi pilihan aman di pekarangan Indonesia selama puluhan tahun, tapi keduanya punya kelemahan yang jarang dibicarakan: rentan lalat buah di dataran rendah, dan mulai berbuah lambat di dataran sedang. Sejak 2018 Balitbu (Balai Penelitian Tanaman Buah) sudah melepas setidaknya tujuh varietas anyar yang menjawab kelemahan itu — dan nursery lokal baru mulai menyediakannya di tahun 2024-2026. Artikel ini membandingkan ketiganya yang paling mudah ditemukan, plus empat varietas lain yang mulai masuk katalog penangkar.
Mengapa Varietas Lama Tidak Lagi Cukup untuk Pekarangan Modern
Arum manis dan manalagi memang manis, tapi keduanya berasal dari seleksi puluhan tahun lalu ketika prioritas pemulia adalah rasa, bukan ketahanan hama atau kecepatan berbuah. Di dataran rendah seperti Jakarta, Surabaya, atau Palembang, dua varietas ini sering diserang lalat buah (Bactrocera dorsalis) — buah kelihatan bagus dari luar, tapi di dalamnya sudah ada belatung.
Kelemahan kedua: waktu tunggu. Bibit okulasi arum manis dari nursery terkenal baru belajar berbuah di tahun ketiga sampai keempat setelah tanam, dan itu pun kalau musim hujan tidak terlalu panjang. Pembaca pekarangan yang ingin panen dalam 2-3 tahun butuh varietas genjah.
Sejak 2018, Balitbu merilis varietas yang menjawab dua kelemahan ini: Manggala (untuk dataran rendah, genjah), Garifta 1 dan Garifta 2 (ketebalan kulit lebih tebal, lebih tahan lalat buah), dan Agrihorti (hasil persilangan yang sudah adaptasi di beberapa lokasi). Ketiganya sudah bisa dipesan dari penangkar di Jabodetabek dan Jawa Timur — bukan varietas laboratorium lagi.
Kalau pembaca ingin menambah variasi dari varietas lokal klasik, lihat juga panduan jenis mangga yang sudah membahas arum manis, manalagi, golek, dan gedong secara detail. Artikel ini fokus pada tujuh varietas rilis baru.
Manggala: Varietas Balitbu untuk Dataran Rendah yang Panen Lebih Awal
Manggala dilepas Balitbu tahun 2018 dari hasil persilangan arum manis dengan varietas introduksi dari Taiwan. Pohon dewasa hanya tumbuh 3-4 meter, lebih pendek dari arum manis yang bisa 5-6 meter, sehingga muat di pekarangan sempit.
Ciri buah: bentuk lonjong seperti arum manis, berat 250-350 gram per buah, warna kulit hijau kekuningan saat matang dengan semburat merah di bagian yang terpapar matahari. Daging buah kuning, serat halus, rasa manis dengan sedikit asam di akhir gigitan. Tingkat kemanisan (brix) rata-rata 16-18, sedikit lebih tinggi dari arum manis pada umumnya.
Keunggulan utama Manggala: umur genjah. Bibit okulasi sudah mulai belajar bunga di tahun kedua setelah tanam, dan bisa dipanen penuh di tahun ketiga. Ini 1-2 tahun lebih cepat dibanding arum manis.
Untuk ukuran dan waktu panen, Manggala cocok jadi pengganti langsung arum manis. Kalau pembaca sedang mencari varietas yang terbukti berbuah cepat, bandingkan juga dengan jenis mangga cepat berbuah yang sudah membahas 6 varietas genjah lain di artikel terpisah.
Garifta 1 dan Garifta 2: Hibrida Tahan Hama dengan Rasa Manis Madu
Garifta 1 dan Garifta 2 dilepas Balitbu tahun 2019 dan 2021. Keduanya hasil persilangan yang fokus pada ketahanan hama: kulit buah lebih tebal (1,5-2 mm dibanding arum manis yang 0,8-1 mm), sehingga lalat buah lebih sulit menembus untuk bertelur.
Garifta 1: buah lonjong besar 400-600 gram, daging kuning-oranye, rasa dominan manis dengan aroma harum seperti madu. Tingkat brix 18-20, tertinggi di antara ketiganya. Pohon dewasa 4-5 meter, genjah seperti Manggala.
Garifta 2: ukuran buah sedikit lebih kecil 300-450 gram, tapi warna kulit lebih merah merata saat matang, daging jingga, rasa sedikit lebih asam seimbang. Tingkat brix 17-19. Pohon sama-sama 4-5 meter.
Penangkar di Jawa Timur sudah bisa menyediakan bibit okulasi Garifta 1 dengan harga Rp 75.000-Rp 120.000 per polybag, Garifta 2 sedikit lebih mahal Rp 90.000-Rp 150.000 karena permintaan lebih tinggi. Kalau pembaca khawatir soal serangan lalat buah, Garifta 1 adalah pilihan pertama; pelajari cara penanganan hama secara umum di panduan hama lalat buah.
Kunci memilih Garifta: Garifta 1 untuk rasa manis madu dan ukuran buah besar, Garifta 2 untuk tampilan merah menarik dan rasa seimbang. Keduanya lebih tahan lalat buah dibanding arum manis, bukan anti hama total — pembungkus buah tetap direkomendasikan 2 minggu sebelum panen.
Agrihorti: Hasil Persilangan yang Mulai Tersedia di Nursery Jabodetabek
Agrihorti adalah varietas yang lebih muda — dilepas Balitbu tahun 2022 dari persilangan manalagi dengan varietas introduksi dari India. Berbeda dari Manggala dan Garifta, Agrihorti dirancang untuk dataran sedang, dengan ketinggian optimal 400-700 mdpl seperti Bandung, Malang, atau Tawangmangu.
Ciri buah: bentuk membulat seperti manalagi, berat 300-400 gram, kulit hijau-kuning saat matang. Daging kuning pucat, serat hampir tidak ada, rasa dominan manis dengan sedikit rasa getir di kulit dalam yang perlu dibuang. Tingkat brix 16-18.
Ketersediaan Agrihorti di nursery masih terbatas. Sampai awal 2026, hanya beberapa penangkar di Bogor dan Subang yang menyediakan bibit okulasi dengan harga Rp 100.000-Rp 180.000 per polybag. Harganya lebih tinggi dari Manggala karena permintaan banyak tapi produksi masih sedikit.
Untuk daftar varietas dataran sedang dan rendah secara lengkap, termasuk Agrihorti dan varietas lain yang lebih mudah didapat, lihat panduan lengkap jenis mangga Indonesia yang sudah memetakan lebih dari 12 varietas.
Madu Abang: Mangga Merah dari Thailand yang Sudah Adaptasi di Sumatra
Madu Abang sebenarnya nama lokal yang diberikan penangkar Sumatra untuk varietas introduksi dari Chok Anan Thailand. Introduksi resmi masuk Indonesia sekitar 2019, dan mulai banyak di nursery Medan, Pekanbaru, dan Padang di 2024. Ini bukan varietas Balitbu, tapi penyesuaian lokal dari varietas hibrida Thailand yang sudah terbukti adaptif di iklim tropis basah.
Ciri buah: kecil sampai sedang 200-300 gram, kulit merah merata saat matang (lebih merah dari Garifta 2), daging kuning pekat, rasa dominan sangat manis seperti madu murni dengan sedikit aroma nangka. Tingkat brix 19-21, tertinggi di antara ketujuh. Pohon dewasa kompak 3-4 meter, genjah, mulai berbuah di tahun kedua.
Keunggulan Madu Abang: ukuran pohon kecil sehingga sangat cocok untuk pekarangan kota, dan cocok ditanam di polybag besar sebagai tabulampot — berbeda dari varietas lokal yang biasanya terlalu besar untuk pot. Kalau pembaca tertarik dengan tabulampot, lihat panduan mangga tabulampot perawatannya untuk detail media tanam dan jadwal pemupukan di pot.
Kelemahan Madu Abang: ketersediaan di luar Sumatra masih sedikit. Pembaca di Jawa harus pesan dari penangkar Sumatra dengan ongkir tambahan, atau menunggu sampai nursery di Jawa mulai memperbanyak di 2026-2027.
Kraton 108 dan Ratu Mulia: Pilihan untuk Dataran Sedang di Bandung dan Malang
Dua varietas ini kurang dikenal di Google tapi sudah ada di katalog penangkar Bandung dan Malang sejak 2023. Kraton 108 namanya diambil dari nomor seleksi Balitbu — varietas ini belum dilepas resmi tapi sudah dilisensikan ke beberapa penangkar untuk uji coba terbatas.
Ciri Kraton 108: buah besar 400-500 gram, bentuk memanjang, kulit hijau dengan semburat merah di bagian ujung, daging kuning, rasa dominan manis dengan sedikit rasa getir khas varietas India. Tingkat brix 17-19. Pohon dewasa sedang 4-5 meter, mulai berbuah di tahun ketiga.
Ratu Mulia varietas yang sama-sama uji coba, lebih cocok untuk ketinggian 700-1.000 mdpl. Buah sedang 300-400 gram, kulit hijau kekuningan, daging kuning pucat, rasa manis lembut. Tingkat brix 16-18. Pohon kompak 3-4 meter.
Kedua varietas ini masih dalam status semi-komersial, jadi ketersediaan bibitnya tidak stabil. Penangkar yang menyediakannya biasanya punya stok 50-200 pohon per musim, dan harga lebih tinggi Rp 120.000-Rp 200.000 per polybag karena proses pembibitan masih manual.
Tabel Perbandingan 7 Varietas: Ukuran Pohon, Rasa, dan Ketersediaan Nursery
Tabel ini merangkum spesifikasi ketujuh varietas. Data dikumpulkan dari katalog penangkar di Jawa dan Sumatra per awal 2026, dengan estimasi harga bibit okulasi polybag 30 cm.
| Varietas | Tinggi Pohon Dewasa | Berat Buah | Tingkat Brix | Dataran Ideal | Ketersediaan Nursery | Harga Bibit |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Manggala | 3-4 m | 250-350 g | 16-18 | Rendah (0-300 mdpl) | Luas | Rp 60.000-90.000 |
| Garifta 1 | 4-5 m | 400-600 g | 18-20 | Rendah sampai sedang | Luas | Rp 75.000-120.000 |
| Garifta 2 | 4-5 m | 300-450 g | 17-19 | Rendah sampai sedang | Luas | Rp 90.000-150.000 |
| Agrihorti | 4-5 m | 300-400 g | 16-18 | Sedang (400-700 mdpl) | Terbatas (Jabodetabek) | Rp 100.000-180.000 |
| Madu Abang | 3-4 m | 200-300 g | 19-21 | Rendah sampai sedang | Sedang (Sumaera, Jabodetabek) | Rp 80.000-130.000 |
| Kraton 108 | 4-5 m | 400-500 g | 17-19 | Sedang (500-800 mdpl) | Terbatas (Bandung, Malang) | Rp 120.000-200.000 |
| Ratu Mulia | 3-4 m | 300-400 g | 16-18 | Sedang-tinggi (700-1.000 mdpl) | Terbatas (Bandung, Malang) | Rp 120.000-200.000 |
Dari tabel di atas, keputusan paling jelas: pembaca di dataran rendah Jakarta, Surabaya, atau Palembang paling aman memilih Manggala (Rp 60.000-90.000) atau Garifta 1 (Rp 75.000-120.000). Pembaca di Bandung atau Malang dengan kebun 400-700 mdpl bisa mulai dengan Agrihorti. Pembaca dengan pekarangan kecil dan tertarik sama warna merah menarik, Madu Abang adalah pilihan pertama.
Cara Memesan Bibit Okulasi dari Varietas Baru Tanpa Tertipu Label Palsu
Risiko terbesar saat beli bibit varietas baru adalah label palsu. Penangkar nakal kadang menempel label Garifta 1 di pohon arum manis biasa karena pembeli tidak bisa membedakan saat bibit masih kecil (tinggi 30-50 cm). Tiga cara verifikasi sebelum bayar:
Pertama, minta foto indukan. Penangkar jujur selalu punya foto pohon indukan yang sudah berbuah, lengkap dengan label dan tanggal. Kalau penangkar menolak atau hanya kasih foto bibit, pindah ke penangkar lain. Bibit okulasi yang baik pasti jejak indukannya jelas.
Kedua, cek fisikokulasi. Sambungan okulasi yang baik harus terlihat jelas di batang utama sekitar 15-25 cm dari permukaan polybag. Bekas sayatan harus sudah menutup sempurna, bukan masih ada luka terbuka. Bibit dari biji (bukan okulasi) tidak punya bekas ini.
Ketiga, perhatikan daun pertama. Bibit okulasi varietas baru biasanya sudah menunjukkan corak daun khas indukan. Manggala dan Garifta 1 punya daun lebih panjang dengan tulang daun menonjol; Madu Abang punya daun lebih kecil dan lebih tebal. Kalau daun bibit berbeda total dari deskripsi varietas yang dijual, jangan beli.
Untuk proses penyambungan sendiri, supaya pembaca bisa memperbanyak sendiri dari satu bibit indukan, pelajari teknik mangga okulasi sambung pucuk — biasanya paling berhasil di musim kemarau ringan (April-Juli) ketika pohon aktif tumbuh tetapi kelembapan tidak terlalu tinggi.
Setelah varietas dipilih dan bibit dipesan atau mulai disiapkan, keputusan selanjutnya adalah memilih metode tanam: langsung di tanah pekarangan atau pindah dulu ke polybag besar sebagai tabulampot. Dua metode ini punya jadwal pemupukan dan pemangkasan yang berbeda, dan pembaca yang memilih tabulampot perlu cek lagi ukuran polybag minimal 50 cm dan media tanam yang tidak mudah becek.







